KH Haris Munawir Ungkap Ketulusan dan Totalitas Perjuangan KH Fadlullah Malik
Friday, 15 May 2026 | 16:21 WIB
Diambil dari Youtube Bahrul Ulum Studio
KH Haris Munawir menyampaikan isyhad pada hari kedua atas wafatnya KH M. Fadlullah Malik atau yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Induk Bahrul Ulum. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu, 10 Mei 2026 di kediaman beliau yang juga menjadi Ribath Al Maliki 1 Bahrul Ulum.
Dalam kesaksiannya, KH Haris Munawir menegaskan bahwa salah satu sifat paling menonjol dari sosok Gus Fadl adalah keikhlasan dan totalitas dalam berjuang. Menurutnya, segala perjuangan yang dilakukan Gus Fadl dilandasi niat tulus untuk menjalankan dawuh kiai.
“Kulo menyatakan estu Kiai Fadl niku tiyang ingkang ikhlas dalam berjuang, totalitas. (Saya menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa Kiai Fadl adalah sosok yang ikhlas dalam berjuang dan sangat totalitas.)” ungkapnya.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa bentuk keikhlasan tersebut terlihat dari kepatuhan Gus Fadl terhadap dawuh para masyayikh, khususnya kepada Kiai Husain. Apa pun perintah yang diberikan selalu dijalankan tanpa banyak pertimbangan pribadi, bahkan siap menerima segala risikonya.
“Saking ikhlase niku, lek pon perintahe kiai, termasuk Kiai Husain, dawuh nopo mawon gak atek ‘dan’. Gus Fadl niki, saking ikhlase, mau menerima risiko nopo wae. (Karena begitu ikhlasnya, kalau sudah perintah kiai, termasuk dawuh Kiai Husain, apa pun itu tidak memakai kata ‘tetapi’. Gus Fadl, karena keikhlasannya itu, siap menerima risiko apa saja.)” tambahnya.
KH Haris Munawir juga mengenang sikap teguh Gus Fadl saat momentum Pilkada tahun 2003. Saat itu, pilihan politik yang diarahkan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukanlah pilihan yang populer di wilayah Jombang. Namun, Gus Fadl tetap memegang teguh dawuh Gus Dur meskipun menghadapi berbagai tekanan.
Menurut penuturannya, menjelang pemilihan tersebut pernah ada tawaran uang sebesar Rp2,5 miliar kepada tim Gus Fadl agar bersedia mengubah dukungan politiknya. Namun tawaran itu ditolak karena Gus Fadl memilih tetap istiqamah pada dawuh kiai.
“Mboten Mas, niki pon dawuhe kiai. (Tidak, Mas. Ini sudah menjadi dawuh kiai.)” tuturnya menirukan jawaban Gus Fadl saat itu.
KH Haris Munawir menilai sikap tersebut menunjukkan ketulusan luar biasa. Di satu sisi terdapat risiko besar yang harus dihadapi, sementara di sisi lain tawaran materi dalam jumlah besar sudah berada di depan mata. Namun semua itu tidak menggoyahkan prinsip Gus Fadl.
Selain dikenal ikhlas dan teguh memegang amanah, Gus Fadl juga disebut memiliki keistimewaan spiritual. KH Haris Munawir menyinggung bahwa Gus Fadl merupakan salah satu muassis kegiatan Ahad Pahing, dan wafatnya beliau juga terjadi pada hari Ahad Pahing.
“Keramate Gus Fadl niku, muassis seng damel acara Ahad Pahing, wafate nggeh Ahad Pahing. (Karomah Gus Fadl itu, beliau termasuk perintis acara Ahad Pahing dan wafatnya juga pada hari Ahad Pahing.)” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Haris Munawir juga membagikan kisah lain yang menurutnya menunjukkan betapa besar kepatuhan Gus Fadl kepada guru-gurunya. Ia menceritakan bahwa suatu malam setelah salat Isya, Gus Fadl mendapat permintaan dari Gus Dur untuk hadir di PBNU keesokan harinya pukul tiga pagi. Tanpa banyak persiapan, beliau langsung berangkat malam itu juga.
“Saking ikhlase Gus Fadl niku, nate isya kepanggeh Gus Dur disuwun ten PBNU jam tiga, ngoten niku dibudali langsung. Saking ikhlase, budal niku KTP mboten nggowo, SIM mboten nggowo, duwet nggih mboten nggowo. (Karena begitu ikhlasnya Gus Fadl, pernah setelah Isya dipanggil Gus Dur diminta hadir di PBNU jam tiga. Karena begitu ikhlasnya, beliau berangkat tanpa membawa KTP, tanpa SIM, bahkan tanpa membawa uang.)” jelasnya.
Menurut KH Haris Munawir, sikap tersebut menunjukkan bagaimana Gus Fadl benar-benar menempatkan dawuh kiai di atas segala pertimbangan pribadi maupun logika duniawi.
“Wes gak peduli iku masuk akal ta gak masuk akal, pokok kiaine perintah berangkat yo berangkat. (Sudah tidak peduli itu masuk akal atau tidak, pokoknya kalau kiai memerintahkan berangkat ya langsung berangkat.)” pungkasnya.
Kesaksian KH Haris Munawir menggambarkan sosok KH Fadlullah Malik sebagai pribadi yang ikhlas, teguh memegang amanah, serta memiliki loyalitas penuh kepada guru-gurunya. Nilai-nilai tersebut menjadi teladan penting bagi santri dan masyarakat dalam memahami makna pengabdian dan perjuangan di lingkungan pesantren.